Senin, 26 November 2012

S.A.K.I.T



Rasa berat dan sakit yang amat sangat… tak bisa berkompromi dengan rasa sakit ini. Tak ada pilihan lain bagiku kecuali berbaring dan beristirahat, berharap setelah terbangun nanti rasa sakit ini akan hilang bersama penat yang begitu terasa.

Namun ternyata aku tak dapat menikmati istirahat ini… rasa sakit lebih mendominasi lelah dan ngantukku. Bingung harus berbuat apa. Kunyalakan dispenser. Biasanya setelah minum segelas teh hangat , sakit kepala seperti ini bisa segera hilang.

Aku kembali ke tempat tidur setelah menghabiskan teh hangat yang kubuat. Untuk beberapa saat aku memang bisa tertidur. Namun itu tak bertahan lama, rasa sakit membuatku kembali terbangun. Astaghfirullah … aku kenapa ya Allah. Kembali kubuat segelas teh hangat, kali ini dengan rasa manis yang lebih dari biasanya. Tidak lama, gelas ditanganku kembali kosong. Ya Allah semoga kali ini bisa mengatasi sakitku, harapku dalam hati.
Udara sore yang dingin (efek hujan) plus rasa sakit yang masih setia menemani, membuatku tak mampu menahan keinginan untuk kembali ke tempat tidur,  bahkan kali ini selimut hijauku kutarik untuk melindungiku dari dingin. Lirih kulantunkan dzikir sambil memijit bagian kepala yang sakit, hingga aku merasa semakin melemah. Dan kali ini aku memang benar – benar tidur.
Pukul 5 lewat aku baru terbangun. Masih ada sisa hujan dalam gerimis. Ketika hendak bangun dari tempat tidur, kurasakan sakit pada kepala . MasyaAllah… rasa sakit itu belum hilang juga. Aku berusaha duduk dan bersandar di dinding kamar. Kali ini tak hanya rasa sakit dibagian kepala, rasa mual pun turut menyertai. Kukuatkan tubuh untuk bergerak. Berjalan ke kamar mandi dengan sedikit terhuyung, mencuci muka, lalu berwudhu.

Untuk kali ketiga aku kembali menyeduh segelas teh. Namun kuganti dengan teh hijau tanpa gula. Ya Allah semoga kali ini benar – benar bisa membantu. Aku rasa ini sudah diluar kewajaran. Tak ada pikiran untuk meminum obat. Bagiku, kondisi seperti ini belumlah membutuhkan obat - obatan sintetik.

Kuraih tumpukan jurnal diatas meja belajar. Aku bergumam dalam hati ; aku tak boleh sakit. Tugas kuliah lagi ngantri tuk diselesaikan. Lagipula besok ada persentase di MK stabilitas obat. Aku mencoba membaca sebuah jurnal , namun hemmm… gak ada yang masuk. Menyerah …. Aku lalu mengambil Mushaf lalu mulai membacanya.. subhanallah terasa ada energi yang mengalir dan masuk kedalam tubuh ku. Kuteruskan tilawah hingga adzan magrib dan kusambung lagi bakda sholat.

Hingga selesai sholat Isya, sakit kepala ku masih terasa. Aku berusaha bertahan dan mengabaikan sakitku. Kubuka bahan persentase untuk besok. Berusaha menelaah semua bahan yang bejibun itu. Hingga jam menunjukkan pukul 22.45 WIB. Aku merasa tak kuat lagi. Tiba – tiba…ah bukankah kuliah jam pertama besok ada tugas juga ?? aku baru ingat. Memang bukan tugas untuk dikumpul tapi hanya untuk dibaca dan dipelajari. Sisa waktu 15 menit kugunakan untuk membaca sedikit bahan itu. Insya Allah sisanya besok subuh. Pukul 11 aku memutuskan untuk menghentikan belajarnya. Rasa sakit juga bukannya berkurang bahkan semakin terasa. Sebelum tidur aku berwudhu , lalu sholat 1 rakaat.

Ternyata tidurku cukup pulas, efek capek sepertinya. Alarm  yang telah ku setel tidak kedengaran, sampai salah seorang teman kost membangunkan dan mengingatkanku untuk sahur. Kulirik jam HP, Pukul 03.27 WIB. Seharusnya aku sudah bangun 27 menit yang lalu. Kini sisa waktu yang ada terasa sempit untuk sholat tahajjud dan sahur. Karna saat ini, untuk wilayah disini waktu subuh masuk pukul 4 kurang 10 menit. Namun aku berusaha menunaikan semuanya. Kuabaikan  sakit yang masih saja terasa.  Mendahulukan tahajjud , lalu bersegera untuk sahur.

Pagi ini, begitu cerah. Beda dengan hari – hari sebelumnya yang selalu diawali mendung, gerimis dan hujan. Namun aku justru masih ditempat tidur. Sakit ku memaksaku untuk tetap stay ditempat tidur dan harus rela absen kuliah jam pertama , pukul 07.00 WIB.  Di jam kedua aku memaksakan diri untuk berangkat kekampus. Persentase kelompok hari ini tentu tidak bisa untuk ditinggalkan. Apalagi dengan riwayat dosen yang terkenal perfeksionis. Saat memasuki ruang kuliah, seorang teman langsung nyamperin ; lho mbak.. koq pucat banget sich ??? aku berusaha tersenyum dan menjawab “ lagi gak enak badan mbak”. Hingga jam kuliah berakhir, aku masih terus berada dalam kesakitan. Buru – buru pulang ke kost an, dan mendapat hujan ditengah perjalanan. Ah basah…

Hingga malam … aku masih dalam sakit ini. Tak ada obat, namun tetap berusaha menjalankan aktivitas normal, termasuk menyempatkan menulis catatan ini. Hanya air hangat, dzikir dan do’a sebagai terapi. Semoga aku bisa segera sehat dan kembali seperti sedia kala. Aamiin……

Bandung , 11 Muharram 1433 H/25 November 2012

# aku bukan mengeluh dengan sakit ku ini. Aku ingin jadi penulis yang baik dan professional. Dan  untuk itu aku memulainya dengan berlatih menulis apa yang sedang aku alami. Terus terang aku tidak bisa menulis sesuatu yang berupa angan – angan kosong atau cerita khayalan. Aku bisanya menulis apa yang kualami, yang kulihat, yang kurasakan dan yang kudengar. Semoga tak ada omong kosong dalam tiap tulisanku kelak # MENULIS YANG BAIK,MENULIS YANG BENAR#



Jumat, 23 November 2012

kesetimbangan ....

suatu permukaan padat yang berkontak dengan larutan yang mengandung ion.
sejumlah kation diadsorpsi pada permukaan , sehingga membuat permukaan itu bermuatan positif.

didalam larutan , tertinggal sisa kation dan keseluruhan anion yang ditambahkan. anion - anion ini ditarik kepermukaan bermuatan posistif oleh gaya elektrik yang juga berperan untuk menolak pendekatan kation lain begitu adsoprsi awal sempurna.

akibatnya , tercapailah keadaan kesetimbangan....

#inilah salah satu bentuk keadaan kesetimbangan. sunnatullah#

Selasa, 20 November 2012

Sisi Gelap Pacaran


Hoyaaaa… lagi mojok berdua neh! He.he.. jangan mendelik dong kalo emang ngelakuin. Bo..abo.. banyak juga neh remaja yang punya prinsip mojok terus, gesek terus, en tempel terus ama gandengannya (idih, emangnya truk?). Hmm… aneh bin ajaib memang. Urusan cinta yang diwujudkan lewat pacaran kadang nggak kenal tempat dan waktu. Kalo udah demen, nyosor terus ampe lupa kanan-kiri. Dunia serasa milik berdua doang. Orang lain mah suruh tinggal di planet senen, eh, planet pluto sekalian.

Saking menjamurnya budaya pacaran, di angkot, di pasar, di kereta, di bus, termasuk di sekolah, mudah kamu jumpai remaja yang saling memadu kasih. Lihat juga di taman kota, di trotoar jalan, termasuk di perpus. Perpus? Nggak salah? Suasananya hening lho buat mojok. Kali aja makin hot! Astaghfirullah…

Udah gitu nggak kenal waktu, bisa siang hari, bisa malam hari. Pokoknya gebet terus sampe pagi. Malam hari banyak juga lho yang sok romantis, pake gantian ngitungin jumlah bintang di langit segala, ngobrol ngalor ngidul di bawah sinar rembulan yang jatuh ke bumi, duh kayak di sinetron jadinya (eh, pas meremas jari pacarnya, ternyata jempol semua! Bukan orang kaliii.. Huhuy kebanyakan nonton Kismis alias kisah misteri tuh! ) J

Sobat muda muslim, ngomong-ngomong apa sih definisi pacaran? Kalo orang hukum bilang, pacaran adalah kontrak sosial antara laki dan wanita dalam satu ikatan dengan tujuan untuk menikah. Hmm.. bener nggak sih? Buktinya banyak yang cuma main-main doang. Lha iya, anak SD dan SMP udah pacaran, apa mereka mikir mo langsung nikah? nggak  masuk akal, sobat.

Sayangnya, pacaran udah jadi trend lho. Jangan kaget kalo ada remaja yang nggak ngelakuin pacaran, bakalan dicap sebagai kampungan, norak, dan super kuper. Sebaliknya, mereka yang jadian mengikat janji sama pasangannya, dianggap wajar karena tuntutan jaman. Wasyah! 

Memangnya kalo jaman berubah, kita juga kudu selalu berubah? Nggak lha yauw. Kita lihat-lihat dulu. Kalo itu berubah kepada kebenaran, ya kita ikutin dong. Tapi kalo ngajak berubah untuk berani maksiat, entar dulu. Tahan... Tahan..

Ngomong-ngomong soal semen, eh, pacaran, kita jadi kepikiran, bener nggak sih pacaran itu halal? Bener nggak sih pacaran itu banyak ruginya? Emangnya kalo udah pacaran kita boleh ngelakuin apa aja dengan pacar kita?

Ta’ruf, Taqarrub, dan ta’ tubruk ....

Remaja sekarang pada pinter ngeles lho.. (yang pinter mah..), pake ngedalil segala. Seolah-olah bakal ditolerir agama dengan dalilnya yang asal-asalan itu. Nggak lha yauw. Saat kamu membanting kartu gaple dengan balak enam sambil menyebutkan, “ini rukun iman”, tentunya bukan berarti main gaple jadi kegiatan yang islami lho. Nggak. Begitu pun dengan pacaran. Jangan mentang-mentang aman aja lho kalo kamu berdalih bahwa deketan sama lawan jenis sebagai bagian dari ta’aruf yang diajarkan agama sambil menyitir ayat tentang diciptakannya manusia dalam kultur dan suku yang berbeda-beda, yang tiada lain adalah untuk saling mengenal. Gubrak!

Jelas salah alamat sobat. Kamu yang pacaran dengan mengaku-ngaku lagi ‘ta’aruf’ kayaknya cuma kedok doang deh. Memangnya kalo pengen kenalan dengan lawan jenis itu kudu nempel terus dan berduaan aja?

Ada teman kamu yang ngelakuin pacaran kok kayaknya seperti udah jadi suami-istri. Nyebutnya aja “mamah-papa”. Itu dilakukan demi mengenal lebih dalam karakter masing-masing. Kata mereka, dengan semakin dekat kita berhubungan, semakin mengetahui kebiasaan pasangannya; mudah marah apa nggak, suka rewel atau justru asyik-asyik aja, kalo makan gembul apa nggak (harus bisa mengontrol jatah beras neh! He..he..he..), kita jadi tahu makanan kesukaannya, ngeh minuman favoritnya, dan sebagainya. 

Nah, kalo udah cukup ‘kenal’ luar-dalam, bisa jadi gampang juga untuk deketan. Pengen lebih deket, makin deket, dan deket banget. Nggak heran, awalnya cuma mau temenen, eh, malah demen? Kalo udah kecantol begitu, setiap pasangan jadi nggak ragu untuk membuka diri. Hmm… jangan kaget kalo akhirnya nggak cuma berani kirim SMS or e-mail doang, tapi mulai coba dengan yang lebih interaktif; nelpon. Bagi mereka yang udah kebelet (emangnya mo buang hajat?), pengennya deketan terus. Dalam kondisi seperti itu, udah berani main ke rumah atau ngajak jalan bareng ke mana mereka suka. Sebab kata orang, cinta terasa makin kuat justru kalo berjauhan. Sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan efek doppler yang justru kekuatannya makin terasa lemah jika saling menjauh (moga kamu inget salah satu kajian dalam ilmu fisika ini).

Sobat muda muslim, hati-hati deh. Kalo udah ‘ta’aruf’ dan pengennya ‘taqarrub’, sangat boleh jadi akhirnya ‘ta’ tubruk’ alias main nyosor terus. Pikirnya, mana ada kucing yang tahan jika mangsanya ngasih peluang. Mana ada yang tahan godaan kalo udah lengket-masket begitu. Bener, pake prinsip manajemen lagi; sedikit bicara banyak bekerja. Nggak ada jaminan deh kalo udah nempel begitu tanganmu nggak gerilya kemana-mana. Yee.. jadinya antara nafsu dan cinta jadi bias. Gubrak, itu namanya peluang untuk saling ‘menubruk’ makin terbuka. Jadi jangan bingung kalo kemudian kamu bisa baca di koran tentang seks bebas remaja ibu kota, juga tentang angka aborsi yang kian meroket, dan menularnya PMS (penyakit menular seksual). Hih, syerem abis!

Ruginya pacaran
Kamu kudu ngeh juga soal yang satu ini. Rugi di akhirat udah jelas. Rugi di dunia juga sebetulnya sejelas siang hari. Cuma, bisa dinetralisir dengan ‘kenikmatan’ yang langsung didapat. Dasar! Pengen tahu lebih detil? Mari kita tunjukkan. 

Pertama, pacaran diduga kuat bikin kantong bolong (biasanya untuk anak cowok). Gimana nggak, kamu jadi kudu nyiapin anggaran lebih; selain buat diri kamu, tentunya biar disebut care ama yayang-nya, kalo jalan kudu punya pegangan. Malu dong kalo jalan nggak punya duit. Entar diledekin  “Jalan bergandengan tak pernah jajan-jajan…” (he..he..). Itu sebabnya, anak cowok kudu nyiapin segalanya buat nyenengin sang pacar. Iya dong, masak makan sendirian kalo lagi jalan bareng? Emangnya pacar kamu obat nyamuk dianggurin aja? So, pastinya kamu bakalan kena ‘roaming’ terus (backsound: rugi dah gua..).

Tapi jangan salah lho, bisa jadi anak cewek juga kudu nyiapin dana (kalo nggak minta ke ortu nodong sama pacarnya—he..he.. teman cowoknya kena juga deh). Buat apa? Huh, tanpa komunikasi, rasanya dunia ini sepi, bro! buat beli pulsa HP, terus sekarang kan jamannya internet, ya untuk chatting atau kirim-kirim e-mail cinta. Huh! Pacaran berat diongkos namanya. Bener-benar terpadu, alias terpaksa pake duit!

Kedua, bisa kehilangan privasi lho. Iya lah, kamu baru bisa nyadar kalo kamu udah putus sama yayang kamu. Betapa kamu waktu itu udah memberikan informasi apapun sama kekasihmu. Rahasia luar-dalam dirimu bisa kebongkar tanpa sadar. Celakanya, banyak pasangan yang akhirnya putus. Nggak ada jaminan kan kalo akhirnya pacarmu cerita sama yang lain setelah putus sama kamu? Atau… bisa juga putus sama kamu karena udah tahu kebiasaan jelek kamu (koor: kasihan deh eluh!..)

Ketiga, menggangu aktivitas produktif. Iya lah. Sebab, pikiran kamu manteng terus ke si dia. Inget terus sama doi. Maklumlah, bagi kamu yang kena ‘sihir’ kasmaran, pastinya inget terus sama doi. Kayaknya nggak rela kalo sehari aja nggak ketemu or denger suaranya. Nggak afdol kalo tiap jam nggak dapetin update info soal doi (emangnya situs berita? He..he…). Persis kayak pelajar yang saban harinya makan sambel melulu, katanya sih bisa bodoh. Lho? Iya, kalo ‘kerjaan’ makan sambel itu membuat doi lupa belajar (he..he..he..). Nah, pacaran disinyalir bisa membunuh produktivitas kamu. Hari libur joss terus sama pacar kamu; ke tempat rekreasi, ke mall, dan sekadar jalan-jalan nggak jelas juntrungannya. Padahal, bisa dipake untuk istirahat or kegiatan bermanfaat seperti olahraga, ngelancarin belajar ngaji, menghadiri kajian keislaman, dsb. Tul nggak?

Padahal hari biasa juga dipake ngedate terus sama gebetan kamu. Kagak ada matinya. Jadi produktivitasnya berubah. Tadinya mantengin pelajaran dan kegiatan bermanfaat lain, pas pacaran jadi mantengin yayang-nya. Apa itu nggak bikin kamu jadi kismin, eh, miskin produktivitas? Aduh, celaka banget deh!

Keempat, rentan untuk sakit hati. Bener. Kegembiraan bisa berubah jadi kesedihan. Maklum, namanya juga baru pacar, belum ada ikatan kuat yang bisa melindungi kamu berdua. Jadinya, gampang banget untuk putus. Cuma soal perbedaan kecil bisa jadi api yang membara. Ujungnya, putus deh. Kalo udah putus cinta, aduh, sakit rasanya. Bener. Perlu kamu pahami, kebanyakan orang berpacaran adalah petualangan. Jadi, bukan untuk melanggengkan ikatan itu, tapi justru masih cari-cari kecocokan. Bahaya!

Kelima, jangan bangga dulu punya pacar yang tampilannya oke punya. Senyuman mautnya bisa menenangkan kamu, sekaligus bikin gelisah. Siapa sudi kalo punya cowok mata keranjang? Nggak bisa teteg di satu hati. Masih nyari penyegaran dengan akhwat, eh, cewek lain. Siapa tahu malah kamu yang jadi ‘sephia’-nya. Cewek lain justru kekasih sejatinya. Gubrag! (suara satu-suara dua: kasihaaan deh kamu…). 

Keenam, beware alias waspadalah! Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan (hei! kok kayak Bang Napi sih? He..he..he.). Gaul bebas bisa bablas euy! Kalo kamu udah saling lengket, jangan harap akal sehat kamu dipake untuk mikir bener. Justru kamu malah bimbang dengan ‘suara-suara’ yang ngomporin supaya melakukan “begituan”. Pastinya kamu nggak mau dong kayak kasusnya Eno Lerian yang menikah karena udah hamil duluan; Married by Accident! Naudzubillahi min dzalik!

Tahan nafsu dong...!

Ingat-ingat pesan Allah dan Rasul-Nya. Jangan mengklaim kebenaran dengan ukuran kamu sendiri. Bahaya. Kamu bisa aja ngasih alasan bahwa pacaran adalah menyenangkan. Itu hak kamu. Tapi jangan salah, kalo kebenaran diserahkan kepada semua orang, bisa berabe. Itu sebabnya kudu ada patokan. Apalagi kalo bukan aturan Allah dan Rasul-Nya. Betul?

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan yang ter cela dan jalan yang buruk,” (QS al-Isra [17]: 32)

Dari Jabir ra, Rasulullah saw. berkata, “Ingatlah! Janganlah seorang laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia menikahinya atau dia mahramnya.” (HR Muslim)

Dalam sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi Saw. bersabda:“Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.

Jadi udah deh, pacaran itu nggak ada untungnya. Banyak sisi gelapnya. Rugi dunia-akhirat lagi. Kalo pun menurut kamu ada untungnya, itu kan baru perasaan kamu aja. Betul? Oke deh, kalo pun itu menyenangkan menurutmu, apa ada jaminan kalo aktivitas kamu bebas dari dosa? Justru, pacaran itu menyenangkan atau tidak menye­nangkan buat kamu, tetep aja haram di mata syariat! Jadi, jangan nekatz berbuat dosa. Waspadalah!