Rasa berat dan sakit yang amat
sangat… tak bisa berkompromi dengan rasa sakit ini. Tak ada pilihan lain bagiku
kecuali berbaring dan beristirahat, berharap setelah terbangun nanti rasa sakit
ini akan hilang bersama penat yang begitu terasa.
Namun ternyata aku tak dapat
menikmati istirahat ini… rasa sakit lebih mendominasi lelah dan ngantukku. Bingung
harus berbuat apa. Kunyalakan dispenser. Biasanya setelah minum segelas teh
hangat , sakit kepala seperti ini bisa segera hilang.
Aku kembali ke tempat tidur
setelah menghabiskan teh hangat yang kubuat. Untuk beberapa saat aku memang
bisa tertidur. Namun itu tak bertahan lama, rasa sakit membuatku kembali
terbangun. Astaghfirullah … aku kenapa ya Allah. Kembali kubuat segelas teh
hangat, kali ini dengan rasa manis yang lebih dari biasanya. Tidak lama, gelas
ditanganku kembali kosong. Ya Allah semoga kali ini bisa mengatasi sakitku,
harapku dalam hati.
Udara sore yang dingin (efek
hujan) plus rasa sakit yang masih setia menemani, membuatku tak mampu menahan
keinginan untuk kembali ke tempat tidur,
bahkan kali ini selimut hijauku kutarik untuk melindungiku dari dingin. Lirih
kulantunkan dzikir sambil memijit bagian kepala yang sakit, hingga aku merasa
semakin melemah. Dan kali ini aku memang benar – benar tidur.
Pukul 5 lewat aku baru terbangun.
Masih ada sisa hujan dalam gerimis. Ketika hendak bangun dari tempat tidur,
kurasakan sakit pada kepala . MasyaAllah… rasa sakit itu belum hilang juga. Aku
berusaha duduk dan bersandar di dinding kamar. Kali ini tak hanya rasa sakit
dibagian kepala, rasa mual pun turut menyertai. Kukuatkan tubuh untuk bergerak.
Berjalan ke kamar mandi dengan sedikit terhuyung, mencuci muka, lalu berwudhu.
Untuk kali ketiga aku kembali menyeduh
segelas teh. Namun kuganti dengan teh hijau tanpa gula. Ya Allah semoga kali
ini benar – benar bisa membantu. Aku rasa ini sudah diluar kewajaran. Tak ada
pikiran untuk meminum obat. Bagiku, kondisi seperti ini belumlah membutuhkan
obat - obatan sintetik.
Kuraih tumpukan jurnal diatas
meja belajar. Aku bergumam dalam hati ; aku tak boleh sakit. Tugas kuliah lagi
ngantri tuk diselesaikan. Lagipula besok ada persentase di MK stabilitas obat. Aku
mencoba membaca sebuah jurnal , namun hemmm… gak ada yang masuk. Menyerah …. Aku
lalu mengambil Mushaf lalu mulai membacanya.. subhanallah terasa ada energi
yang mengalir dan masuk kedalam tubuh ku. Kuteruskan tilawah hingga adzan
magrib dan kusambung lagi bakda sholat.
Hingga selesai sholat Isya, sakit
kepala ku masih terasa. Aku berusaha bertahan dan mengabaikan sakitku. Kubuka bahan
persentase untuk besok. Berusaha menelaah semua bahan yang bejibun itu. Hingga jam
menunjukkan pukul 22.45 WIB. Aku merasa tak kuat lagi. Tiba – tiba…ah bukankah
kuliah jam pertama besok ada tugas juga ?? aku baru ingat. Memang bukan tugas
untuk dikumpul tapi hanya untuk dibaca dan dipelajari. Sisa waktu 15 menit
kugunakan untuk membaca sedikit bahan itu. Insya Allah sisanya besok subuh. Pukul
11 aku memutuskan untuk menghentikan belajarnya. Rasa sakit juga bukannya
berkurang bahkan semakin terasa. Sebelum tidur aku berwudhu , lalu sholat 1
rakaat.
Ternyata tidurku cukup pulas,
efek capek sepertinya. Alarm yang telah
ku setel tidak kedengaran, sampai salah seorang teman kost membangunkan dan
mengingatkanku untuk sahur. Kulirik jam HP, Pukul 03.27 WIB. Seharusnya aku
sudah bangun 27 menit yang lalu. Kini sisa waktu yang ada terasa sempit untuk
sholat tahajjud dan sahur. Karna saat ini, untuk wilayah disini waktu subuh
masuk pukul 4 kurang 10 menit. Namun aku berusaha menunaikan semuanya. Kuabaikan
sakit yang masih saja terasa. Mendahulukan tahajjud , lalu bersegera untuk sahur.
Pagi ini, begitu cerah. Beda dengan
hari – hari sebelumnya yang selalu diawali mendung, gerimis dan hujan. Namun aku
justru masih ditempat tidur. Sakit ku memaksaku untuk tetap stay ditempat tidur
dan harus rela absen kuliah jam pertama , pukul 07.00 WIB. Di jam kedua aku memaksakan diri untuk berangkat
kekampus. Persentase kelompok hari ini tentu tidak bisa untuk ditinggalkan. Apalagi
dengan riwayat dosen yang terkenal perfeksionis. Saat memasuki ruang kuliah,
seorang teman langsung nyamperin ; lho mbak.. koq pucat banget sich ??? aku
berusaha tersenyum dan menjawab “ lagi gak enak badan mbak”. Hingga jam kuliah
berakhir, aku masih terus berada dalam kesakitan. Buru – buru pulang ke kost
an, dan mendapat hujan ditengah perjalanan. Ah basah…
Hingga malam … aku masih dalam
sakit ini. Tak ada obat, namun tetap berusaha menjalankan aktivitas normal,
termasuk menyempatkan menulis catatan ini. Hanya air hangat, dzikir dan do’a
sebagai terapi. Semoga aku bisa segera sehat dan kembali seperti sedia kala. Aamiin……
Bandung , 11 Muharram 1433 H/25
November 2012
# aku bukan mengeluh dengan sakit
ku ini. Aku ingin jadi penulis yang baik dan professional. Dan untuk itu aku memulainya dengan berlatih menulis
apa yang sedang aku alami. Terus terang aku tidak bisa menulis sesuatu yang
berupa angan – angan kosong atau cerita khayalan. Aku bisanya menulis apa yang
kualami, yang kulihat, yang kurasakan dan yang kudengar. Semoga tak ada omong
kosong dalam tiap tulisanku kelak # MENULIS YANG BAIK,MENULIS YANG BENAR#


Tidak ada komentar:
Posting Komentar